Copyright © 2008 Balai Pustaka halaman depan      katalog      profil      bantuan      kontak kami      peta 
Home Katalog Profile Kontak Us Bantuan
Forum Diskusi

Lain yang Kudapat 1
Posted : anuar.syukur2@gmail.com ( komentar) Selasa, 27 Juli 2010

Pongoibuon Pongoibuon* * Bagian pertama dari novel “Bukan Penebus Salah” Kenangan sesungguhnya bagian dari sejarah hidup Dia ada di masa lalu, namun terus saja membuntuti hidup kita (Ansy) Seperti namanya, Nur adalah cahaya. Dia bintang sekolah! Bukan sekadar bintang di pelajaran tapi juga dikecantikan, kebijaksanaan dan kesederhanaan. Sebagai bintang, banyak yang menyukainya. Anak pejabat dan kaya mendekatinya. Namun, entah mengapa, dia malah memilih dekat denganku yang tak punya apa-apa. Memang aku kedua setelah dia. Tapi umumnya perempuan yang akan lebih memilih mendekati lelaki yang punya kelebihan dibandingkan dengannya. Ya, mungkin juga Nur memang bukan perempuan yang umum! Walau sebatas karib di sekolah karena entah mengapa kami tak pernah ingin saling mengunjungi rumah, kawan-kawan menyangka kami pacaran. Pacaran? Heh! Dia bilang di kamusnya tak ada istilah “pacaran”. Dia hanya punya “teman yang bisa saja menjadi suami”. Dan dia bilang aku adalah teman! Apa berarti aku bisa jadi suami? Aku ingin bertanya namun mulutku terkunci. Kami tak ada komitmen untuk pacaran. Tapi teman-teman yang menaruh hati pada Nur menjauh, mungkin juga karena aku dan Nur memang tak memberitahukan pada mereka bahwa kami tak punya komitmen pacaran itu. Hanya satu yang berani mencoba. Seorang play boy pongah, anak orang kaya, bernama Bobi. Nur menolaknya, tapi Bobi pantang ditolak. Dia meneror! Nur mengeluh padaku, maka kudatangi Bobi untuk bicara sebagai sesama lelaki namun Bobi lari. Dasar play boy cap teri! Suatu hari, ketika upacara Senin, tiba-tiba saja Nur yang menjadi penggerek bendera jatuh pingsan. Bendera menyelimutinya nyaris seperti pahlawan. Kami panik. Nur segera dibawa ke Puskesmas namun dokter menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Ibunya yang baru datang langsung menyetujui. Di sini pertemuan pertamaku dengan ibunya Nur, namun kepanikan membuat kami tak sempat mengobrol walau perjalanan ke rumah sakit Datu Binangkang sebenarnya cukup jauh. Dari hasil diagnosa dikatakan Nur benar-benar sakit. Dia diharuskan istirahat total, termasuk istirahat sekolah. Tentu aku kecewa karena tak akan punya teman diskusi lagi di sekolah, juga kasihan karena berarti kelulusan Nur akan tertunda. Kuharap system saat orang tuaku sekolah akan berlaku, yaitu siswa yang cerdas dapat mengikuti ujian satu tingkat di atasnya sehingga aku dan Nur tetap bersama. Nur siuman dari pingsannya. Wajahnya pucat bagai kapas, pandangannya memelas, suaranya tak begitu jelas. Setelah makan dan minum obat, dia mendapatkan sedikit kekuatan. Dia memperkenalkanku pada ibunya yang langsung disambut kerut ibunya. Aku digelandang ke luar begitu Nur tidur. “Jadi kau anaknya (nama ibuku disebut) dari kampung…?” pertanyaan itu diulang terus oleh ibunya Nur. Aku heran mengapa ibunya Nur tahu asalku, bahkan nama ibuku. “Buyutmu dan buyutnya Nur saudara kandung, Dul. Berarti sudah kerabat jauh, jadi tak usah memecahkan piring kalau kalian menikah,” gurau ibunya Nur. Gurauan ibunya Nur justru membuatku kaget dan marah. Apa? Nur kerabatku? Ada gumpalan amarah dalam dadaku, gurauan ibunya Nur tak menghiburku. Tanya berangkai dalam benakku. Apa sejak awal Nur tahu kami kerabat? Apa karena ini dia tak ingin pacaran? Tepatnya, dia tak ingin pacaran denganku? Mungkin! Dalam adat kami cukup ketat dalam pernikahan antar kerabat. Jika tak salah, perkawinan sepupu dan dua pupu (sesama cucu) harus mengadakan upacara adat yang disebut memecahkan piring. Aku dan Nur sudah sesama cece yang dalam bahasa kami disebut kodua ompu (dua kali cucu) sehingga tak perlu melakukan upacara itu. Tapi apa kata masyarakat? Hubungan antar kerabat memang akan memunculkan cemoohan dalam masyarakat. Ini akan mendatangkan aib. Lalu, apa arti kekariban kami selama ini? Apa arti dia katakan aku sebagai “teman”? Ah, itu karena dia ingin dilindungi! Dia ingin aku jadi tukang pukulnya! Sial! Aku benar-benar marah. Tak kudengar lagi uraian ibunya Nur tentang betapa guyubnya mereka dulu. Aku pamit. Aku hanya melihat sepintas Nur yang sedang tidur dengan wajah memucat. Aku berjanji ini terakhir kali kumelihat Nur. Aku ingin melupakan Nur dan segala hal yang terkait dengannya. Untuk itu aku pindah sekolah. Di sekolah baruku aku menyibukan diri dengan memasuki berbagai organisasi, bahkan aku jadi Ketua OSIS. Ternyata kesibukan resep mujarab untuk melupakan. Bayang Nur pun perlahan kabur, kemudian hancur. Hari Ahad, aku mengistirahatkan pikiran di kebun sambil membantu Papa. Ketika pulang untuk sarapan, terdengar salam dari luar. “Assalamu’alaikum.” Masih dengan pakaian kerja yang kotor aku ke depan. “Wa’alaikum salam,” balasku sambil membuka pintu. Aku terpaku begitu melihat tamu yang menenteng ember itu. Aku mengenalnya tapi aku tak bisa mengeluarkan suara. Aku seperti pinungul, yaitu kaget luar biasa sehingga otakku tak bisa jalan. “Ya Allah, Dul. Kamu di sini ternyata,” ujarnya mendahuluiku. Aku memandangi Nur, menyelidik apakah ada yang kurang. Ternyata bukannya kurang melainkan tambah. Jilbab merah muda sekarang bersarang dikepalanya, entah kapan Nur mulai menghiasi diri dengan pakaian muslimah itu. “Hei, Dul. Saya Nur! Apa kamu lupa?” katanya yang nampak risih dipandangi terus. “Ah, tidak! Cuma sedikit …Kamu sudah berubah sekarang,” jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Wajahnya memerah. “Boleh saya masuk?” tanyanya. “Oh ya…silahkan…silahkan masuk.” Diapun masuk. “Silahkan duduk,” ujarku formal, aku belum bisa menguasai diri. Ternyata Nur salah satu panitia kegiatan di SD di depan rumahku. Dia sering mengambil air mentah di rumah namun baru sekarang dia bertemu denganku. Dia juga bilang telah pindah sekolah. “Aku malu harus jadi adik kelasmu,” guraunya. Wajar. Nur bintang sekolah, masak kami jadi kakak kelasnya? Aku hanya tersenyum, dan memang ini yang kebanyakan kulakukan ketika kami berbincang. “Aku mencarimu tapi teman-teman bilang kamu sudah pindah.” “Iya. Aku mendahuluimu,” kataku. “Mengapa?” Aku terdiam beberapa jenak. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk menanyakan pertanyaan besar sejak kutinggalkan dia. “Sejak kapan kau tahu kita kerabat?” akhirnya keluar juga pertanyaan itu. “Mama memberitahuku ketika bangun, tak lama setelah kamu pergi dan tak pernah kembali,” katanya. Aku menarik napas mendengarnya. Ternyata diapun baru tahu. “Pentingkah itu, Dul?” tanyanya. “Menurutmu?” aku balik bertanya. Dia menarik napas. “Menurutku, kekerabatan merupakan takdir, merupakan Sunatullah. Apa Tuhan salah?” Aku diam saja. Maka Nur melanjutkan: “Mungkin, justru kita yang salah. Kita begitu tak peduli dengan kekerabatan lalu kaget begitu tahu kita masih kerabat.” Dia tersenyum. “Dan, kalau ini salah kita, kenapa kita begitu mempersoalkan? Lagi pula, Tuhan tak menghalangi apapun keinginan kita walau kita kerabat.” Kutunggu beberapa saat namun tak ada penjelasan lebih lanjut. “Maksudnya?,” tanyaku. Dia menyembunyikan senyum. “Aku haus, Dul. Boleh minta teh?” Khas Nur dalam menghindar. Aku hanya bisa tersenyum dan ke dapur. Ketika kembali ternyata Mama dan Papa sudah menemani Nur. Mereka, terutama Mama, terlihat akrab dengan Nur. “Kamu mandi dulu. Bau!” kata Mama. Rumahku menjadi tempat isritahat Nur selama kegiatan berlangsung. Kami pun akrab kembali. Ketika kegiatan Nur selesai, aku masih di sekolah untuk mempersiapkan kegiatan orientasi bagi siswa baru. Anehnya, jilbabnya tertinggal ketika dia pulang. Wah, ini alasan yang bagus untuk bertandang ke rumah Nurlaela! “Biar saya antar, Ma,” aku menawarkan diri. “Tidak boleh! Barang perempuan kok diantar lelaki,” tolak mama. “Tak masalah, orangnya saja bisa diantar, apalagi hanya barang,” kataku ngotot. Mama memandangiku dengan mata melotot, “Kalau kamu rindu pada Nur, kesana saja, tak usah cari alasan macam-macam,” katanya. Wah, tertangkap basah! Dengan muka manyun aku masuk kamar. Ternyata Ina, adikku, satu MTs dengan Fitrih, adiknya Nur. Dan kebetulan rumahku dekat dengan MTs sehingga Fitrih sering mampir. Tapi aku tak pernah menanyakan kabar Nur. Gengsi, dong! Hari itu, Fitrih mampir ke rumah. Dia dan Ina asyik membicarakan rumus matematika. Di kamar, aku tenggelam dalam rumitnya rumus dibuku. “Kak Nur sakit lagi, Mama. Sudah dua hari dia tak sekolah.” Suara Fitrih masuk ke kamarku. Tanpa sadar, buku kulemparkan dan bergegas ke luar. “Nur sakit apa, Fit?” Fitrih memandangiku, kecemasan membayang di wajahnya. “Entah, Kak. Mungkin penyakitnya yang dulu kambuh lagi,” katanya. Aku cemas, tapi masih tetap egois. “Kalau kamu pulang, bilang-bilang ya. Nanti saya antar,” tawarku. Fitrih mengangguk, kemudian kembali ke buku catatannya. Aku kembali ke kamar. Namun aku tak bisa tenang. Aku sangat ingin mendesak Fitrih untuk pulang tapi aku sungkan. Fitrih sendiri asyik berdebat dengan Ina tentang pelajaran, persis seperti aku dan Nur dulu. Selepas Isya baru Fitrih minta diantar. “Kenapa kamu baru ke sini lagi?” Mama Hendi langsung marah. Aku hanya tersenyum. Ternyata Nur sehat. Masalah sakit itu hanya buatan Fitrih. Adik nakal! Hubungan kami kembali dekat. Jika tidak aku yang ke rumahnya maka dia yang akan ke rumahku. Tentu lebih banyak aku yang bertandang. Wajar, laki-laki! Saat aku ke Jawa, diadakan mintahang, doa selamat. Nur datang membantu. Sebenarnya Nur tidak banyak membantu, dia lebih banyak bicara denganku. sempat kubilang agar dia menyusul, tapi ini jadi diskusi yang hangat. Dia menolak! Katanya, dia lebih ingin belajar hal-hal yang membuat dia siap mengatur rumah tangga. “Berapa lama lagi kamu akan menikah?” tanyaku lebih mirip gugatan. Nur menunduk, kemudian menatapku tajam. “Berapa lama orang kuliah?” tanyanya. Aku menggigit bibir. Berusaha menahan senyum. Kurasa aku tahu dengan siapa dia ingin menikah! Kubilang padanya, empat tahun lama orang normal kuliah. Tapi aku bisa memperpendek sampai tiga setengah tahun. Padaku dia bilang, selama “orang kuliah”—dia tidak terang-terangan menyebutku—maka dia akan mempelajari berbagai pengetahuan yang akan membantu suami dan anak-anaknya nanti.  Uh, ini sudah masuk tahun ke lima aku kuliah. Materi kuliah memang kurampungkan tepat tiga setengah tahun dan aku bisa memaksa lulus saat itu. Namun aku tak bisa menolak ketika teman-teman memintaku untuk jadi Presiden. Memang bukan Presiden Negara dengan gaji besar, fee proyek, beragam fasilitas, dan kemungkinan untuk korupsi. Ini hanya Presiden Mahasiswa, kerennya disebut Presma, di mana semua itu terlarang. Namun, Presma merupakan jabatan prestisius bagi seorang aktivis. Di sinilah tempat ego dan ambisi seorang aktivis. Dan jujur, egoku cukup besar, juga ambisiku. Untuk memuaskan ego dan ambisi itu kuterima tawaran kawan-kawan. Setelah melalui pertarungan yang menegangkan, akupun menang. Ego dan ambisiku mendapat tempat. Namun kuliahku terlantar. Ingatanku pada Nur juga memudar. Setahun lebih aku menjadi Presma, mungkin hanya sebulan kuingat dia. Itupun karena aku merasa wajib membalas surat-suratnya. Namun, lama-lama, kesibukan membuatku cepat lelah, bahkan hanya untuk menggoreskan sebait kata untuk surat. Bahkan, kemudian aku jadi capek untuk sekadar membaca suratnya. Setahun lebih kesibukanku dan telah menghapus bayang Nurlaela. Namun, baru seminggu ini kulepaskan jabatan itu, bayang Nurlaela langsung datang menyerbu. Sungguh, aku tak dapat menghilangkan bayangan Nurlaela. Pongoibuon kata orang kampung! Akhirnya, setelah pongoibuon tak tertahan lagi, dengan mengucap basmallah, akupun berniat pulang. Pada orang tua kukatakan ingin menjemput adikku yang sudah selesai SMA untuk kuliah di Jawa. Tujuanku yang lain tak aku beritahukan. Sebelum berangkat, kudatangi Hendi. Hendi kakaknya Nur yang kuliah di Jakarta. Kami bertemu di Seminar Nasional yang kuadakan menjelang kelengseranku. Pertemuan yang aneh! Waktu itu, dia mengkritik pedas panitia yang membuatku marah. Kami hampir adu jotos. Namun… “Ayo maju, Putra Bogani tak akan pernah mundur,” sumbarnya yang sudah menyiapkan kuda-kuda. Aku langsung terkekeh, nyaris terbahak. Aku merasa lucu, heran dan kagum padanya. Bagaimanapun aku sadar bahwa sangat sedikit mahasiswa dari daerah yang bangga pada leluhurnya itu, bahkan lebih sedikit mahasiswa daerah yang memperkenalkan dirinya sebagai putra Bolaang Mongondow. Aku memeluknya, padanya aku bilang aku bukan Putra Bogani melainkan Putra Totabuan, sebutan lain untuk daerahku. Rencananya, akan kuminta Hendi menuliskan surat pada orang tuanya. Biasa, alasan. Agak aneh juga kan ke rumah Nurlaela tanpa alasan?! Apa kata bakal calon mertua nanti? Namun agak susah juga berurusan dengan Putra Bogani yang satu ini. “Kau datang ke sini hanya untuk menyuruhku menulis surat?” “Iya, tulis saja!” balasku sengit, sebagian karena kesal, sebagian lagi agar tak tertangkap basah. Uh, repot juga punya kakak ipar seperti Hendi…! * Motobi Kecil 05 Jun. 10

 
Post Reply    Website    E-mail
Keranjang Belanja : 0 item
Buku Tamu
Member Online : 1058
E-mail
Password
Lupa Password
Buku Baru | Buku Terlaris
 
Buku Anak (5)
Buku Bacaan Umum (20)
Buku Bacaan Umum SD (285)
Buku Bacaan Umum SMP (141)
Buku Bacaan Umum SMU (193)
BUKU KURIKULUM 2013 SEMESTER II
Buku Pelajaran SD (24)
Buku Pelajaran SMP (607)
Buku Pelajaran SMU (19)
Buku Pengayaan/Life Skill (11)
Buku Sastra Adiluhung (7)
Buku Sastra Klasik (27)
Buku Sastra Modern (7)
Cerita Rakyat (18)
Information and Communication Technology (ICT) (12)
IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) (17)
Kamus Daerah (21)
Kamus dan Glosarium (21)
Kurikulum 2013 (Semester 2) Kelas 1 (Buku Guru)
Kurikulum 2013 (Semester 2) Kelas 1 (Buku Siswa)
Kurikulum 2013 (Semester 2) Kelas 2 (Buku Guru)
Kurikulum 2013 (Semester 2) Kelas 2 (Buku Siswa)
Kurikulum 2013 (Semester 2) Kelas 4 (Buku Guru)
Kurikulum 2013 (Semester 2) Kelas 4 (Buku Siswa)
Kurikulum 2013 (Semester 2) Kelas 7 (Buku Siswa)
Kurikulum 2013 (Semester 2) Kelas 8 (Buku Siswa)
Kurikulum 2013 SD kelas 1 - Buku Tematik Terpadu (8)
Kurikulum 2013 SD kelas 2 - Buku Tematik Terpadu (8)
Kurikulum 2013 SD kelas 4 - Buku Tematik Terpadu (8)
Kurikulum 2013 SD kelas 5 - Buku Tematik Terpadu (8)
Referensi (54)
Sains (10)
Seri Akhlak Mulia (18)
Seri Buku Pengembangan Karakter Bangsa (10)
 
Buku Baru | Buku Terlaris
 
Launcing Pustaka Digital (PADI)
Selasa, 21 Juni 2016
Dirut Balai Pustaka (Saiful Bahri) dan Menteri BUMN (Rini Soemarno) Berjabat Tangan atas k...
Selengkapnya...
 
 
1. Lain yang Kudapat 1
 
Pasang Iklan
UBS_Media Kreatif PT Balai Pustaka (Persero)
Banner Indonesian Cultural Heritage
waktu operasional BP Online